Tampilkan postingan dengan label Emha Ainun Najib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emha Ainun Najib. Tampilkan semua postingan

Senin, September 01, 2008

Korupsi Milik Kita Semua


OLEH. Emha Ainun Najib

Sangat tidak mudah mengambil keputusan apakah korupsi adalah milik para koruptor ataukah milik kita bersama. Juga tidak gampang mengukur kadarnya sebagai “penyakit sistem” (struktural), sebagai “penyakit manusia”, atau “penyakit budaya” suatu masyarakat yang berada dalam sistem yang sama. Ia sangat cair, seakan-akan merupakan serbuk yang rata menabur, atau bagaikan asap halus yang tak kasat mata, sehingga tidak bisa serta merta bisa disimpulkan bahwa perilaku korupsi adalah semacam anomali atau penyakit khusus yang berlaku pada sejumlah orang, ataukah ia memiliki “infrastruktur” budaya yang memang mendarah daging secara lebih menyeluruh pada kehidupan masyarakat kita.
Darah daging itu bisa jadi tak hanya berskala budaya atau kebudayaan, bisa jadi ia sudah merupakan peradaban. Terutama apabila disepakati bahwa korupsi materiil hanyalah salah satu output “kecil” dari dasar-dasar jiwa korupsi yang juga bisa menemukan manifestasinya pada perilaku lain, pada pola berpikir, cara pandang, cara memahami, cara merasakan, bahkan cara memahami dan melaksanakan iman. Tak pernah berhenti kita bertanya: di kedalaman jiwa manusia, apakah korupsi itu peristiwa mental, peristiwa ilmu, peristiwa akhlak, peristiwa iman, atau apa?


Kalau sudah sampai ke kompleksitas itu, kita yang di panggung berteriak “Wahai Kaum Koruptor…” tidak otomatis kita sendiri bukan koruptor. Atau kekhusyukan seseorang dalam beribadah, status mulia seseorang dalam kegiatan keagamaan, citra bersih seseorang dalam imaji publik – tidak serta merta mengandung arti bahwa yang bersangkutan berada di luar lingkaran, jaringan dan sistem korup. Bahkan kita yang bertugas memberantas korupsi, perlu mengaktifkan terus menerus kewaspadaan diri untuk menjamin bahwa dalam berbagai konteks dan nuansa itu langkah-langkah kita benar-benar bebas dari potensialitas korupsi. Apalagi sejumlah pagar eksternal atau internal yang tak selalu bisa kita atasi membuat langkah-langkah kita tampak di mata orang lain sebagai “tebang pilih”.

Teknologi Eksternal dan Teknologi Internal
Saya ingin menyebut sebuah term: “Teknologi Internal”. Ada jenis manusia atau masyarakat yang kecenderungannya adalah “mengelola dunia luar” dan itu kita sebut “Teknologi Eksternal”. Ada jenis manusia atau masyarakat lain yang lebih sibuk “mengolah dunia dalam” dirinya sendiri: mentalnya, manajemen hatinya, rekayasa berpikir subyektifnya. Itu “teknologi internal”.
Ada hipotesis yang mengindikasikan bahwa “teknologi internal” adalah semacam tipologi, unikum atau karakteristik kemanusiaan atau budaya masyarakat di wilayah sepanjang Nusantara. Pelan-pelan, berikut ini, mudah-mudahan saya punya kemampuan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya dimaksud dengan “teknologi internal”.
Perkembangan peradaban global abad 20-21 adalah puncak eksplorasi “Teknologi Eksternal”: meneliti, menganalisis, menyimpulkan, mengaplikasikan ke wilayah eksternal segala hal yang membuat kehidupan manusia lebih “maju” dan “mudah”. Muncullah gedung-gedung, pabrik-pabrik, alat-alat di bidang apa saja di wilayah kehidupan yang manapun saja. Tidak hanya transportasi yang ajaib dan dunia maya yang ‘wingit’, tapi bahkan kekhusyukan shalatpun mengandalkan rekayasa teknologi eksternal. Seluruh pemandangan metropolitan Jakarta Raya ini sangat menggambarkan produk “teknologi eksternal”.
Sementara “Teknologi Internal” adalah suatu inisiatif mental, didukung oleh aktivitas emosi dan sedikit intelektual, di mana untuk maju dan mudah, manusia mengandalkan pengaturan, pengolahan, eksplorasi, atau manipulasi mental di dalam dirinya. Untuk makan enak tidak tergantung jenis dan mahalnya makanan, melainkan bergantung pada cara kita menganggap dan memperlakukan makanan apa saja yang ada. Demikian juga berbagai soal lain di luar makanan. Di dalam budaya Jawa ada kata “mupus”: menganggap tak ada sesuatu yang bikin pusing tapi tak pernah bisa diselesaikan. Penderitaan berkepanjangan oleh kemiskinan struktural oleh rakyat cukup dijawab dengan “Gusti Allah mboten sare”. Tuhan tidak tidur.
Puluhan juta keluarga bisa hidup tanpa rasionalitas ekonomi, gaji tak cukup untuk makan keluarga tapi kredit motor, tak ada kerjaan tapi merokok sambil main catur, kalau ditanya bagaimana makan minum keluargamu, mereka menjawab: “Bismillah, Cak”. Ahli Statistik di belahan bumi sebelah manapun tidak pernah mencatat dan makanan utama Bangsa Indonesia adalah bismillah. Dan sesungguhnya apa yang terkandung di balik “bismillah” itu adalah kelonggaran-kelonggaran sistem budaya korupsi di berbagai celah kehidupan yang memungkinkan mereka tetap bisa survive.
Rakyat Indonesia berteriak beberapa hari oleh kenaikan BBM, penjualan asset-asset Negara dan jenis-jenis kebobrokan lain yang dilakukan oleh Pemerintah, kemudian mereka berduka satu dua bulan, akhirnya “mupus”, memproklamasikan “Tuhan tidak tidur”, dan kembali “ubet” lagi, “iguh” lagi: menjalani penghidupan sekeluarganya dengan amat sangat mandiri, tanpa ketergantungan yang signifikan dan tidak perduli-perduli amat kepada parpol apa yang memerintah, Presidennya Bima, Arjuna, Gareng, Bagong, Limbuk, atau Buto Kempung dan Bethoro Kolo….
Sesekali berkhayal: Presiden kita besok harus Puntadewa alias Yudhistira yang berdarah putih, tak punya ambisi, berani kehilangan apapun demi cinta kepada rakyat dan kebenaran sejati. Tetapi kalau di saat fajar ada serangan Rp 20 ribu, ya tak apa bermurah hati mencoblos calon yang menyebar uang itu. Adakah bangsa lain di muka bumi yang tangguh dan cuek-nya melebihi “Bangsa Nusantara”?

Pupusnya Denotasi, Maraknya Konotasi
Salah satu keluaran dari kebiasaan teknologi internal adalah pupusnya denotasi. Manusia dan masyarakat Indonesia hidup dalam konotasi-konotasi: sesuatu tidak dimaksudkan sebagai sesuatu itu sendiri sebagaimana ia adanya. Setiap kata, setiap perbuatan, setiap langkah dan keputusan, setiap jabatan dan fungsi, selalu tidak berkenyataan sebagaimana substansinya, melainkan ada tendensi, pamrih, maksud tersembunyi, “udang dibalik batu” atau apapun namanya -- di belakangnya.
Kalau ia berlaku pada denotasi penderitaan dikonotasikan sebagai “tabungan akhirat”, pada “tempe” dianggap “daging”, pada “kegagalan” disebut “sukses yang tertunda”, “kelemahan” disebut “kesabaran”, “kebodohan” dibilang “kerendahan hati”, “kemiskinan” dikonotasikan sebagai “suratan takdir” – maka masih bisa menguntungkan survivalisme para penderitanya. Mereka bertahan hidup berkat kepandaian menciptakan konotasi-konotasi, Pemerintah selalu beruntung karena tingkat kemiskinan dan penderitaan sedahsyat apapun tak mungkin melahirkan pemberontakan total atau revolusi.
Tetapi kalau yang berlaku adalah denotasi “mencuri uang Negara” dikonotasikan sebagai “jasa bagi keluarga”, “korupsi” menjadi “kelapangan peluang untuk kedermawanan sosial”, denotasi merampok dan melacur itu boleh asalkan konotasinya adalah “jihad Agama”, malak pabrik narkoba itu halal asal konotasinya ada prosentase untuk “pembangunan Masjid”, denotasi “uang narkoba” batal demi konotasi “pembelaan Islam” – maka kebenaran, Agama, dan denotasi apapun tak akan mengalami kehancuran – karena satu-satunya yang bisa hancur hanya kehidupan manusia.

Sindroma Garuda-Emprit
Agar supaya kita tidak terlalu “bersedih” atas “kepastian” untuk semakin hancur, perkenankan saya pergi jauh ke belakang sejarah bangsa Indonesia kita.
Untuk itu “iseng-iseng” kita mempertanyakan siapa itu “Bangsa Indonesia”. Dengan asumsi sederhana bahwa kalau orang tak mengenal dirinya, maka ia tak tahu tempatnya, kalau tak tahu tempatnya juga pasti tak mengerti ke mana akan melangkahkan kakinya. Kita berendah hati saja untuk sedikit mengakui bahwa segala keributan dan kebobrokan yang kita alami 10-20 tahun terakhir ini siapa tahu sekadar kasus orang yang memang tak kenal siapa dirinya. Orang yang dirinya saja ia malas mengenalnya, maka agak mustahil ia punya energi untuk mendiagnosis apa penyakit yang sedang dideritanya. Dan kalau tak ada diagnosis yang tepat, mustahil pula ia akan bisa menyembuhkan diri dari penyakitnya.
Mungkin kita ‘terpaksa’ harus melewati sejumlah relativitas pemahaman atas beberapa hal. Misalnya, sebelum “ada” Bangsa Indonesia, ada “Masyarakat Nusantara”, yang harus diperdebatkan terlebih dulu apakah ia “Rumpun Melayu”, “Masyarakat Jawi”, “Bangsa-bangsa Timur” dst.
Juga sebutan “Jawa” atau “Melayu” berbeda pengertian dan skala faktualnya bergantung satuan waktu yang dipakai: setelah ada NKRI berbeda dengan 5 abad silam, juga berbeda dengan kurun “Ajisaka” 20-an abad silam. Kita harus menunggu puluhan atau ratusan tahun riset antropologis-historis, bahkan penelitian arkeologi dan sejumlah disiplin lain yang lebih mendasar dan akar.
Kita mulai “iseng-iseng” ini dari sejumlah pertanyaan (yang boleh jadi mengandung substansi-substansi yang tidak atau belum “benar”, tapi belum juga bisa dibilang “salah”) misalnya:

Seberapa berbeda “Bangsa Indonesia” dengan “Bangsa Nusantara”? Kita sebut saja keduanya sebagai “kita”. Pertanyaannya: “kita” ini lahir pada 1945, ataukah “kita” yang melahirkan 1945? Kalau “kita” yang melahirkan NKRI dengan penduduknya yang kita sebut Bangsa Indonesia, maka tentunya “kita”lah juga yang melahirkan Ray Pikatan, Sanjaya, Mataram Kuno, Kutai, Majapahit, Ken Arok, Raden Wijaya, dan Gadjahmada, Borobudur dan paradigma Candi Seribu. Kitalah fosil manusia tertua dalam sejarah umat manusia di dunia di Sragen dan Mojokerto. Kitalah induk manusia (mungkin 6 generasi sesudah Adam) yang merintis peradaban, sebelum dihancurkan oleh era demi era sejarah primordialisme: sejak pewarisan kembali dendam Qabil-Habil, berpuluh-puluh abad hingga primordialisme Quraisy-Baduwi, sampai hari ini ada Suku Ahmadiyah, suku Gus Dur, dan suku Muhaimin.
Dari semua kata itu yang mana denotasi yang mana konotasi?
Yang menguasai keuangan internasional, sistem global dan mekanisme pasar (: Neo-Liberalisme, IMF, Kongress AS, Neomultinational dst) dewasa ini sepertinya hanya sejumlah prosentase sangat kecil (1%?) dari jumlah penduduk dunia – yang seluruhnya adalah keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq (kaum konglomerat Arab dan strategi /stakeholders Yahudi) dengan induk Nabi Ibrahim. Sampai-sampai Kaum Muslimin harus mengulang tafsir kenapa dalam bacaan Tahiyat Shalat mereka salam kedamaian tak cukup disampaikan kepada Rasul Muhammad Saw tapi juga shalawat dan berkah kepada Rasul Ibrahim As dan keluarganya.
Kalau omong IMF, mudah menerimanya sebagai denotasi, tapi kalau Ibrahim: asosiasi kita biasanya konotatif.
Adapun “Masyarakat Nusantara” ini keturunan siapa? Bisakah dibilang keturunan Ibrahim atau bukan keturunan Ibrahim? Apakah atau siapakah induk “gen” bangsa kita ini lebih muda dari Ibrahim ataukah lebih tua? Misalnya Nabi Nuh As, itu orang Yahudi atau Arab, atau Melayu Jawa?
Apakah tersedia energi mental dan intelektual kita untuk mewaspadai denotasi dan konotasi dari pertanyaan itu?
Bangsa Cina dan Bangsa India itu berada pada garis Ishaq atau Ismail atau di luar itu? Masa depan kita di abad 21 ini mencadangkan Cina dan India sebagai “musuh yang pasti” dipandang dari mata dan kepentingan keturunan Ismail-Ishaq -- maka pasti harus ada pola strategi jangka pendek menengah dan panjang terhadap “Bangsa Nusantara”: NKRI harus dipastikan bisa dikuasai, ditunggangi, dikendalikan, diatur, dengan terlebih dahulu memastikan bahwa NKRI harus rapuh, terpecah belah, saling benci dan bermusuhan satu sama lain, seperti yang terjadi hari ini. Dengan demikian NKRI akan dipande menjadi Keris Nusantara untuk melawan Cina-India ketika saatnya nanti diperlukan.
Ini semua pertanyaan denotatif atau konotatif?
Kalau umpamanya ternyata “Bangsa Nusantara” ini induknya lebih tua dari Ibrahim, maka mungkin perlu dipertanyakan bahwa segala perangkat kemajuan sejarah yang kita pakai sekarang ini “kulakan” pada klan Ismail-Ishaq, dan itu pasti akan menjadi jebakan-jebakan kultural, psikososial dan politis, yang membuat NKRI makin hari makin bunuh diri. Keadaan bangsa Indonesia saat ini demi Allah tidak memerlukan Neoliberalisme, AS, Iblis dan siapapun dari luar sana untuk hancur: bangsa Indonesia sudah berada pada “peak position” untuk secara amat canggih sanggup menghancurkan dirinya sendiri.Kok Iblis segala? Pernahkah Iblis dipahami oleh 20 abad peradaban manusia secara denotatif? Ataukah kita sebut-sebut ia setiap saat dalam konotasi semau-mau kita? Anda pikir Iblis ada hubungannya dengan Setan dan Jin?
Kalau dilihat dari posisi-kosmis, kekayaan alam, keunggulan bahasa dan budaya, maka “Bangsa Nusantara” yang sekarang bernukleus di NKRI tidaklah bisa diungguli oleh bangsa manapun di muka bumi. Maka diampuni Allahlah Amangkurat-II yang menyerahkan rakyat dan kedaulatannya kepada VOC, diampuni Allah semua pelaku-pelaku sejarah Indonesia sejak 1945, Orla, Orba, Orde Reformasi, yang dengan sangat cemerlang mampu mengubah “Garuda Perkasa Bangsa Nusantara” hari ini menjadi “Emprit kerdil, cengeng, dan penakut”.
Sebenarnya kalau kita selalu mengatakan “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar” itu denotatif atau konotatif?

Ketangguhan Yang “Mencelakakan”
Baiklah. Kalaupun Bangsa Indonesia sekarang tak perlu sampai memerlukan penglihatan diri sejauh ini, semoga sedikit berinisiatif pada takaran normal saja sebagai manusia, sebagai masyarakat dan sebagai bangsa – untuk memulai kemandirian, punya instink untuk ketat menjaga martabatnya, untuk mulai percaya kepada dirinya dan kepada apa yang sebenarnya bisa digapainya.
Kalau bangsa Indonesia tidak percaya bahwa ia besar, bahwa ia lebih induk dan lebih besar dari bangsa-bangsa di dunia, serta tidak percaya bahwa sesungguhnya ia punya filosofi, formula, teknologi, budaya dan mekanisme kepemimpinan atas dunia secara lebih damai, hangat dan penuh toleransi (masyarakat kita aslinya adalah Professor Doktor Toleransi dengan tesis empiris cum laude) – maka mudah-mudahan ada sedikit inisiatif kecerahan diri mengupayakan agar 2009 tidak menjadi “Perayaan Kebodohan Edisi kesekian”, 2012 mencoba memastikan ada sejumlah klausul kenegaraan dan hak milik yang membuat kita tidak lebih parah menjadi budak bangsa lain, serta 2015 memproklamasikan “Keselamatan Minimal” sebagaimana layaknya manusia hidup normal standard tanpa keunggulan dan kehebatan.
Kalau flash-back di atas suatu hari dipelajari dan direnungi, mungkin kesibukan berpikir keIndonesiaan kita sehari-hari mengandung kadar pengetahuan dan substansi yang sedikit agak fenomenologis dan paradigmatik. Kita bersabar dengan ilmu, dan menahan diri tidak bicara atau bertindak apapun kalau tidak dilandasi tanggungjawab ilmu. Bahkan yang membedakan keyakinan (iman) dengan khayalan (klenik, mitologi, subyektivisme) adalah faktor ilmu.
Misalnya ada pertanyaan: kenapa segala penderitaan rakyat, kebobrokan pemerintahan dan kekacauan keadaan bangsa kita tidak pernah cukup menjadi syarat lahirnya sebuah revolusi yang mendasar, total, dan sungguh-sungguh? Padahal penderitaannya lebih dari sungguh-sungguh, kebobrokannya jauh melebihi ukuran kekebobrokan yang pernah dicatat oleh sejarah kepemimpinan dan pemerintahan, serta kekacauannya sedemikian rupa sehingga tak ada rakyat Negara manapun di muka bumi yang sanggup berada di dalamnya?
Salah satu jawabannya: karena individu manusia Indonesia sangat tangguh, tidak collapse oleh kesengsaraan bagaimanapun juga, bahkan berulangkali sanggup menolong Negara untuk tidak collapse pada keadaan yang secara teoritis dan seharusnya ia collapse.
Dan jawaban khusus untuk lembar acara hari ini adalah: karena bangsa “kita” memiliki tradisi Teknologi Internal yang tidak dimiliki oleh gen-gen bangsa lain. Dan paradigma itulah yang selama ini “mencelakakan” kita.

Norma, Hukum, dan Moral
Tentu saja, bangsa dengan bakat internal-technology di era NKRI sekarang ini tidak bisa sepenuhnya menerapkan keunggulan mentalnya: bagaimana mungkin kita tak punya motor, mobil, rumah bagus, laptop, AC; bagaimana mungkin kita mengelak dari arus besar kemewahan, hedonisme, gebyar dan gemerlap… maka bakat internal-technology akhirnya tak sengaja tergeser dan terterapkan ke wilayah-wilayah lain yang masih mengandung ketidak-majuan dan ketidak-mudahan.
Dengan hasil korupsi, kita memperoleh berbagai kemudahan dan kemajuan: bisa beli apa saja sebagaimana atau melebihi orang lain, keluarga menganggap kita sukses, Pesantren dan Masjid yang kita bantu menyimpulkan kita adalah dermawan, masyarakat melihat bahwa kita adalah “orang yang benar”: buktinya punya jabatan, kaya, dan mau bersedekah kepada mereka.
Tetapi ada sedikit pengetahuan yang sudah terlanjur nyantol di saraf otak yang membuat ingatan bahwa kita korup itu menghasilkan sesuatu yang tidak enak dalam hati dan tidak mudah di depan Tuhan. Maka tak cukup bantu Pesantren dan Masjid, kita perlu umroh sesering mungkin, langsung melakukan pendekatan kepada Tuhan. Sebenarnya sedikit-sedikit kita merasa juga bahwa Tuhan tersinggung karena kita tuduh ia bisa kita sogok dengan umroh atas dosa korupsi kita – tetapi karena demikianlah juga yang dilakukan oleh banyak teman-teman Indonesia lain, maka kita menjadi sedikit tenang.
Faktornya di sini, budaya kita lebih mengandalkan norma dibanding hukum atau moral. Hukum dan moral itu nilai otonom dan pasti, sedangkan norma itu bergantung kesepakatan atau kebiasaan banyak orang. Kalau banyak orang menyuruh Ahmadiyah bubar dan banyak orang lain mengutuk FPI, kita terdorong untuk memilih salah satu dan kemudian turut mengacungkan tinju dan memekik-mekik.
Itulah norma. Sementara hukum itu “ilmu”, moral itu “ruh”. Mereka yang hidup berdasar moral dan hukum, tidak melangkahkan kaki berdasarkan arus norma atau kecenderungan orang banyak.
Alif Lam Mim, tuhan kita adalah norma. Kita lakukan apa saja yang nge-trend, yakni segala gejala dan perilaku yang diterima dan dikerjakan oleh orang banyak. Dari mode rambut, sinetron religi bulan Ramadlan, demokrasi, otda pilkada, syariat non-gender, darmawisata umroh, wisata kuliner hingga membubarkan Ahmadiyah dan FPI. Untuk bayar pajak saja kita perlu alasan “Apa Kata Dunia, hare gene…”

Multikorupsi
Dulu Suharto bikin Keraton Kemusu, sempalan Nyayogyakartohadiningrat dari tiga generasi sebelum yang sekarang. Keratonnya dikasih nama Republik, baju kebesarannya sebagai Raja dikasih label Presiden, dengan “uborampe” (kelengkapan basa-basi) mengumpulkan sekian ratus orang menjadi dua kelompok yang dikasih papan nama “MPR” dan “DPR”, dan akhirnya hanya seorang Raja yang jauh-jauh hari sudah merancang dan membangun makamnya di sebuah bukit.
Kepresidenan Suharto adalah konotasi, karena denotasinya adalah Keraton.
Masyarakat tidak keberatan dengan “Keraton” berlabel “Republik” itu karena jiwa raga mereka adalah “abdi dalem” dan “kawulo” sampai hari ini. Dan sampai hari ini kaum intelektual juga tidak pernah mengakui bahwa Orba adalah “Keraton”, karena diam-diam di dalam kandungan mentalnya masih menyimpan rasa “andhap asor” atau inferioritas “kawulo”, masih menyimpan mitologi subyektif untuk “takut” atau “segan”, juga karena sejak semula mereka juga diam-diam berikhtiar bagaimana menjadi “abdi dalem”. Kalau Sang Prabu Haryo Suharto tidak menerima lamaran kita, baru kita tampil di media massa sebagai oposan.
Alhasil, view ini sekadar pintu awal untuk membuka kemungkinan besar kenyataan yang perlu kita teliti dengan jujur bahwa kasus-kasus korupsi yang dijaring KPK hanyalah sejumlah cipratan kecil dari budaya dan peradaban korupsi. Bangsa kita terjebak dalam kesalahan manajemen sejarah yang menggiring mereka melakukan korupsi sejak “dini”. Sebelum uang dan harta Negara, kita sudah melakukan korupsi iman, ilmu, cara berpikir, sejatinya isi hati, setiap jenis perilaku dari yang sehari-hari kultural sampai yang kenegaraan dalam konstitusi dan birokrasi.
Apa yang saya tulis ini bukan tuduhan, juga saya harap tidak menambah persoalan. Ini sumbangan kewaspadaan, demi kebangkitan atau totalnya kehancuran kita bersama. Tiap menjelang tidur, ambil satu kata kerja: lihatlah seberapa “sungguh-sungguh” bangsa kita mengerjakan dan memaksudkan “kata kerja” itu. Apakah kalau kita bilang “a” maka yang kita kerjakan adalah “a”, dan kalaupun memang benar-benar kita kerjakan “a”, apakah niat dan maksud kita sungguh-sungguh “a”. Itu boleh pada perilaku sehari-hari, hingga urusan-urusan yang lebih besar: menjadi pejabat, menjadi wakil rakyat, menjadi Ustadz, menjadi Presiden, mengambil suatu keputusan nasional, dan apapun.

Kunci kehancuran kita sangat boleh jadi adalah: tidak atau kurang bersungguh-sungguh. Catatan: Term “teknologi internal” saya pinjam dari Noe/Letto dan sejumlah muatan lembar ini berasal dari diskusi dengannya.
Tulisan ini adalah pengantar pada acara Diskusi Bareng di Perpustakaan KPK, Jumat, 13 Juni 2008.


Baca Selengkapnya......

Jendela Hati Buat Prajurit Sejati


Oleh. Emha Ainun Najib

Bukan Jabatan, melainkan Jiwa
Menjadi tentara tidak sama dengan menjadi Bupati, Gubernur, Menteri atau Presiden.
Tentara itu jiwa, Presiden itu jabatan.
Jabatan Presiden akan ditinggalkan dan meninggalkan (dengan paksa) orang yang menyandangnya, sedangkan ketentaraan adalah jiwa yang menyatu dengan manusianya, adalah ruh yang tak bisa dicopot kecuali oleh pengkhianatan dan ketidaksetiaan, adalah kepribadian yang mendarah daging sampai maut tiba.
Jabatan sangat disukai oleh manusia yang menyandangnya, tetapi sangat bisa jadi jabatan diam-diam tidak menyukai manusia yang menyandangnya. Tetapi jiwa ketentaraan adalah cinta dan kebanggaan yang menangis jika manusianya mengkhianatinya, dan manusia yang mengkhianati jiwa ketentaraan itu tidak memiliki kemungkinan lain kecuali terjerembab ke jurang kehancuran.


Orang dengan jabatan akan mengalami post power syndrome, tetapi orang dengan jiwa ketentaraan tidak mengenal kata 'post', tidak mengenal 'bekas' atau mantan. Tentara boleh tidak bertugas lagi, boleh menjadi veteran, tetapi itu hanya urusan administrasi dan birokrasi formal, sedangkan kepribadian ketentaraannya tidak bisa dikelupas dari manusianya meskipun oleh kematian.
Dengan pemahaman seperti itu, maka andalan utama Prajurit dalam bermasyarakat bukanlah jabatan dan kekuasaan, bukanlah kegagahan dan kekuatan, melainkan kesetiaan dan sikap yang penuh perhatian kemanusiaan.

Prajurit Pangkat dan Prajurit Kepribadian
Prajurit memiliki dua pemaknaan. Pertama makna jasad, kedua makna rohani. Dalam pemaknaan jasad, prajurit dibedakan dari perwira. Tetapi di dalam makna rohani, prajurit adalah rohani kepribadian.
Kepribadian Prajurit Sejati tidak berkaitan dan tidak berbanding lurus dengan tingkat kepangkatan. Seorang prajurit dalam arti kepangkatan tidak melogikakan makna bahwa ia kalah sejati keprajuritannya dibanding perwira. Seorang Jenderal bisa kalah sejati keprajuritannya dibanding seorang Kopral.
Kata Prajurit Sejati adalah gelar kepribadian, bukan mengindikasikan tinggi rendahnya pangkat.
Bahkan sesungguhnya kata "Prajurit" tidak bisa dipisahkan atau malah mungkin tidak memerlukan kata "Sejati", sebab kalau ia tidak sejati maka ia bukan prajurit.
Seorang prajurit bukan hanya "sebaiknya" berkepribadian sejati, melainkan "harus" dan "pasti" sejati. Sebab keprajuritan adalah keteguhan mempertahankan prinsip, keberanian menegakkan keyakinan, serta "ketenangan jiwa" untuk meletakkan kematian pada harga yang tidak lebih mahal dibanding keyakinan akan kebenaran.
Prajurit Sejati tidak menangis oleh kematian, ia hanya menderita oleh pengkhianatan dan ketidak -setiaan.
Dengan demikian bekal utama Prajurit dalam membaurkan dirinya ke tengah masyarakat bukanlah keunggulan dan kehebatan, melainkan keteladanannya dalam keteguhan memegang prinsip, keberaniannya menegakkan kebenaran, ketenangan jiwanya dalam membela nilai-nilai yang baik di antara sesama manusia.

Keperwiraan adalah Watak Prajurit
Bahkan sesungguhnya kata, idiom atau istilah "perwira", "perwiro", "keperwiraan", diambil dari tradisi watak prajurit.
Ada kata lain dari bahasa lain yang mengindikasikan watak itu, misalnya "gentle", "gentleness". Bahasa Indonesia belum menemukan padanan popular dari kata "keperwiraan", sering orang menggunakan idiom "kejantanan" - tetapi secara budaya kata ini kurang adil, karena "jantan" indikatif terhadap lelaki. "Jantan" terpaksa diakronimkan dengan kata “betina”. Hal ini menumbuhkan subyektivisme bahwa keperwiraan seolah-olah hanya milik kaum lelaki, sehingga segala yang tidak perwira disebut "betina".
Pada kenyataannya tidak sedikit kaum wanita yang berwatak "jantan" dan banyak juga kaum lelaki yang "betina". Maka Bahasa Indonesia sebaiknya meminjam kata "perwira" saja dari peradaban bahasa yang lebih tua.
Keperwiraan, watak prajurit itu, sesungguhnya menjelma dalam berbagai bidang kehidupan atau wilayah sosial.
Keperwiraan berpangkal pada kejujuran dan berujung pada keadilan.

Di dalam wilayah hukum, perwira disebut adil.
Di wilayah moral, perwira disebut jujur.
Di wilayah olahraga, perwira disebut sportif.
Di wilayah budaya, perwira adalah kerendahan hati.
Di wilayah ilmu, perwira disebut obyektif.
Di wilayah cinta, perwira disebut setia.
Di wilayah ketuhanan, perwira adalah kepatuhan.

Maka kehadiran utama Prajurit di tengah masyarakat adalah kepeloporannya di dalam menegakkan watak adil, jujur, sportif, rendah hati, obyektif, setia dan patuh kepada nilai-nilai sejati.

Sarjana Utama, Pendekar, Empu
Jika seseorang berhasil mencapai watak perwira, atau jika seorang perwira sukses mempertahankan kesejatian keprajuritannya, ia adalah Sarjana Kehidupan.
Jika prajurit yang perwira diuji digembleng dihajar oleh pengalaman-pengalaman khusus, sehingga ia layak berada di dalam barisan Pasukan Khusus: ia adalah Sarjana Utama Kehidupan. Ia seorang Doktor Pengalaman.
Kesarjanaan dan ke-Doktor-annya tidak terlalu substansial kaitannya dengan pangkat, terlebih lagi dengan jabatan. Kesarjanaan Prajurit dengan keperwiraannya bukan suatu benda yang menempel di badan atau pakaiannya, bukan pula ditandakan oleh kursi yang didudukinya: melainkan watak, karakter, jiwa, yang sudah menyatu dengan aliran darahnya, denyut nadinya, tarikan nafasnya, ekspresi wajah dan sorot matanya, serta dengan seluruh tata nilai dan pola perilaku kehidupannya.
Jika seorang Prajurit dengan kadar keperwiraannya diletakkan pada suatu tingkat kepangkatan, maka pangkat itu tidak menambah kesejatian keprajuritan serta keperwiraannya, melainkan pangkat itu menguji keprajuritan dan keperwiraannya.
Jika seorang Prajurit dengan wibawa keperwiraannya dijunjung di atas kursi jabatan, maka jabatan itu tidak punya potensi untuk membuat keprajuritan dan keperwiraannya menjadi lebih terpuji, karena justru jabatan adalah medan uji bagi keprajuritan dan keperwiraannya.
Maka seorang prajurit, seorang Perwira, yang adalah Sarjana Utama, Doktor, Empu Kehidupan: jika menempati suatu jabatan, ia tidak tergiur oleh jabatan itu, karena keprajuritan dan keperwiraan jauh lebih mahal dari jabatan setinggi apapun. Ia menjalankan tugas jabatannya tidak untuk membanggakannya, melainkan untuk membuktikan kesetiaan keprajuritannya dan kesejatian keperwiraannya bagi manfaat yang seluas-luasnya bagi bangsa, Negara dan masyarakatnya.
Jika seorang Prajurit dengan keperwiraannya memperoleh kesempatan hidup untuk memiliki kekayaan dan harta benda yang berlimpah, maka limpahan harta itu tidak menambah apapun atas kesejatian keprajuritan dan keperwiraannya, kecuali jika harta itu ia dayagunakan untuk keperluan-keperluan kemasyarakatan yang luas.
Maka kebanggaan Prajurit di dalam kehidupan bermasyarakat bukanlah pangkatnya, jabatan dan atau kekayaannya, melainkan bukti-bukti kesejatian keprajuritannya dan praktek-praktek keteguhan keperwiraannya.

Bias dikhotomi Sipil-Militer
Masyarakat prajurit sampai sejauh ini masih dirugikan atau menjadi korban dari bias subyektif dikotomi pengertian antara Sipil dengan Militer. Terdapat pandangan umum yang berlaku tidak hanya di masyarakat umum namun juga di peta wacana kaum intelektual dan aktivis yang paling modern pun, yang merupakan salah kaprah berkepanjangan. Semacam stigma psikologis dengan pemaknaan yang tidak sportif, di mana Sipil selalu dianggap positif sementara Militer selalu diindikasikan negatif.
Idiom cita-cita besar bangsa Indonesia "Masyarakat Madani" dengan sangat simplifikatif diterjemahkan atau disinonimkan dengan "Masyarakat Sipil", merekrut wacana dari luar negeri tentang "Civilian Society". Akronimnya sudah pasti "Masyarakat Militer", atau lebih ekstrim lagi: Masyarakat yang militeristik.
Bias ini lebih parah ketika menjadi pandangan umum bahwa orang sipil itu tidak memiliki sifat militeristik, sementara prajurit atau tentara dianggap pasti berwatak militeristik. Orang sipil itu "baik", militer itu "jahat". Sipil diidentikkan dengan kedamaian dan kelembutan, militer diasosiasikan dengan kebrutalan dan kekerasan.
Pandangan umum memahami Sipil dan Militer sebagai identitas dan tidak sebagai substansi. Seorang prajurit bisa justru sangat berperilaku sipil dalam kehidupan nyata di masyarakat, dan pada saat yang sama sangat mungkin dan sangat banyak contoh manusia sipil justru berwatak militeristik.
Masyarakat umum maupun kaum intelektual belum berhasil memahami ilmu yang paling sederhana: bahwa tulang itu keras, harus keras maka ia bernama tulang, dan kerasnya tulang tidak bisa diterjemahkan menjadi "tulang adalah pro kekerasan".
Bahwa daging harus lembut, bahwa darah harus cair, bahwa udara tak bisa ditusuk atau ditembah. Manusia dan kehidupan memerlukan sekaligus tulang, daging, darah dan nafas, dengan posisi dan fungsinya masing-masing. Demikianlah juga Negara memerlukan Kaum Sipil dan watak sipil, serta membutuhkan Kaum Militer dan watak militer, pada porsi, proporsi dan fungsinya masing-masing. Darah jangan anti tulang, tulang jangan anti daging, daging jangan anti nafas, nafas jangan anti tulang.
Di tengah bias umum bahwa Sipil adalah "Malaikat" dan Militer adalah "Iblis", ada kemungkinan sebaiknya kata "Militer" tak usah dipakai saja. Sebab kalau kata militer diteruskan menjadi "militerisme", maka maknanya sangatlah negatif. Sementara kalau kata perwira diteruskan menjadi "perwiraisme" maka maknanya sangat positif.
Maka salah satu nilai yang paling harus dibuktikan oleh setiap Prajurit kepada masyarakatnya adalah bahwa kaum prajurit tidak kalah lembut dibanding manusia sipil, bahwa keprajuritan bukanlah militerisme, bahwa ketentaraan bukanlah kekerasan kepada manusia dan masyarakat, serta bahwa pelatihan-pelatihan keras kaum prajurit hanyalah diperuntukkan bagi fungsi menjadi Benteng Negara, pelindung masyarakat, pagar keamanan dan dinding penjaga ketenteraman. Benteng, pagar dan dinding tidak boleh lembut atau lembek, ketika berfungsi sebagai benteng, pagar dan dinding.

Antara Nasionalisme dan kesejahteraan
Tema yang saya tulis dengan airmata adalah dilema pelik yang dialami oleh Prajurit Indonesia antara kewajiban kepeloporan Nasionalisme dengan kenyataan kesejahteraan bagi institusi ketentaraan maupun bagi keluarga-keluarga para Prajurit. Namun tema ini tidak mungkin bisa saya tuliskan dengan baik melalui susunan kata dan kalimat seperti apapun-sebab Kaum Prajurit bukan hanya jauh lebih mengetahui dan sangat mengerti persoalan ini, namun mereka mengalaminya dengan jiwa nelangsa di setiap siang dan malam, di setiap pagi dan sore, di setiap bulan dan tahun, bahkan di setiap menit dan detik, bersama keluarga-keluarga mereka masing-masing.
Saya tidak berada pada posisi dan luang waktu untuk mengkritik siapapun dan pihak manapun dalam persoalan ini. Saya tidak akan melirik Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang bukan hanya Presiden tapi juga seorang Jenderal. Saya tidak akan menuding mereka di Majlis Rakyat atau Dewan Rakyat, juga tidak saya kecam siapapun dan institusi apapun dalam skala nasional maupun internasional yang selama menanam saham penderitaan di kalangan Kaum Prajurit Indonesia. Karena jika ada sesuatu yang bisa menolong keadaan ini, saya tidak akan mengatakannya, melainkan akan mengerjakannya.
Yang pagi hari ini bisa saya bisikkan kepada para Prajurit Negeri dan Tanah Air bangsa Indonesia adalah kebanggaan saya kepada tingkat kesabaran dan ketabahan yang luar biasa di dalam jiwa Para Prajurit. Penghormatan saya kepada ketenteraman hati mereka untuk terus menerus menahan amarah, kepada keluasan jiwa mereka yang membuat mereka tidak mengamuk, serta ketangguhan mental mereka yang mampu memelihara kuda-kuda nasional mereka sebagai Prajurit-prajurit Sejati.
Saya mohon ampun kepada Tuhan dan minta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia bahwa tahun-tahun terakhir ini sangat membuktikan di depan mata semua orang di negeri ini bahwa yang lebih suka marah-marah adalah kaum sipil, bahwa yang lebih sering tawur adalah masyarakat sipil, yang lebih suka berpecah belah dan bertengkar adalah golongan-golongan masyarakat yang bukan tentara.
Tentara Indonesia, para Prajurit, adalah manusia puasa, di sisi rekannya yang tiap hari menjadi manusia kenduri. Makhluk yang paling mulia di hadapan Tuhan adalah manusia yang berpuasa. Puasa manusia adalah hidangan paling lezat yang disantap oleh Tuhan. Dan sesungguhnya hanya manusia puasalah yang mengerti nikmatnya berbuka puasa. Mereka yang profesinya kenduri tiap hari tak akan pernah merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh orang berpuasa yang berbuka meskipun sekedar semangkuk kolak ketela.
Hanya kata-kata terakhir itulah jendela hati yang mampu kubukakan bagi para Prajurit Sejati yang aku cintai.
EAN
Casablanca, Jakarta, 8 April 2008
Tulisan ini merupakan materi ceramah Cak Nun dalam rangkaian acara Ulang Tahun Kopassus ke-56 (16 April 2008) di Balai Komando Markas Kopassus Cijantung Jakarta Timur, 9 April 2008.

Baca Selengkapnya......

Kamis, Mei 01, 2008

“Islamic Valentine Day”


Seputar Indonesia, Jum,at 21/09-2007

JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.

Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi.Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari ”agama” lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entiti, Islam hanya sama dengan Islam.

Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam.Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.

Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangannya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu. Kalau ada teman melakukan perjuangan ”islamisasi”, ”dakwah Islam”, ”syiar Islam”, bahkan perintisan pembentukan ”Negara Islam Indonesia” – yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing.

Dan Islamnya si A si B si C tidak bisa diklaim sebagai sama dengan Islamnya Allah sejatinya Islam. Demikianlah memang hakekat penciptaan Allah atas kehidupan. Sehingga Islam bertamu ke rumahmu tidak untuk memaksamu menerimanya. La ikroha fid-din.Tak ada paksaan dalam Agama, juga tak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.

Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap Islam.

Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk mengkamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian,korupsi atau keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: yang penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa saya bagian dari orang yang mencari sorga, berdzikir ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan Malaikat Jibril.

Sedemikian rupa sehingga kita selenggarakan dan lakukan berbagai formula dunia modern, industri liberal, mode show, pembuatan film, diskusi pengajian, yang penting dikasih kostum Islam.Tentu saja tidak usah kita teruskan sampai tingkat menyelenggarakan tayangan ”Gosip Islami”, ”Lokalisasi Pelacuran Islami”, ”Peragaan Busana Renang Wanita Muslimah” atau pertandingan volley ball wanita muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai kemudian dengan tolol dan ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadan sebagai Hari Valentine Islami...

Tapi sesungguhnya saya serius dengan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubiiina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadan, tepatnya pada tanggal 10 Ramadan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal...

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: ”...hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah,wa antumut thulaqa....”.Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing. Pasukan Islam mendengar pidato itu merasa shock juga. Berjuang hidup mati,diperhinakan dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup. Rasulullah memerintahkan papasan perang, berbagai harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: ”Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?” Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun... ”Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: ”Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?” Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit. Tentu saja, andai kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, kelihatannya kita menjawab agak berbeda: ”Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah... tapi kelau boleh mbok ya juga diberi onta dan emas barang segram dua gram...”(*)

Emha Ainun Najib

Baca Selengkapnya......

Puasa, Setan, dan Gempa


SINDO, Jum'at, 14/09/2007

PUASA itu melatih ”tidak”karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan ”ya”. Sekurang- kurangnya mengendalikan ”ya”. Mental manusia lebih berpihak pada ”melampiaskan” dibanding ”mengendalikan”.

Padahal, keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan,tata kelola manajemen, kepengurusan negara dan kemasyarakatan lebih mengacu pada pengendalian daripada pelampiasan. Bahkan idiom ”kemerdekaan” kita selama ini sedemikian tidak terkontrol sehingga identik dengan ”pelampiasan”. Maka Ramadan menjadi sangat penting untuk melatih ”tidak”itu. Bukan hanya tak makan tak minum tak banyak omong dan lain sebagainya, tapi juga berbagai macam ”tidak” yang lain coba dilatihkan selama bulan Ramadan. Termasuk ”tidak” ribut, riuh rendah, gebyar-gemebyar, melonjak-lonjak, berjoget- joget. Puasa mungkin juga merupakan perjalanan memasuki kesunyian, menghayatinya, merenunginya, kemudian menemukan nikmatnya.

Dunia dan Indonesia sudah selalu ribut, dan begitu memasuki Ramadan: semakin ribut keadaan. Modal keuangan dan alat perniagaan yang membuat apa saja menjadi komoditas semakin jadi pengeras suara dari keributan itu. Penderitaan diributkan bukan oleh orang-orang yang menderita, tetapi oleh saudagar-saudagar penderitaan yang menjualnya sana sini dengan keributan statement,opini, dan asumsi, sambil menempuh strategi jangan sampai ada solusi. Wakil Presiden ribut terus kapan saja dan tentang apa saja. Jakarta ribut ingin menyulap dirinya menjadi Singapura yang metropolitan. Bagi yang memasuki Ramadan dengan mencoba menyelinap memasuki bilik ”swaraning asepi” atau dunia ”kasyful hijab”,mungkin mereka mulai belajar membuka telinga batin sehingga terdengar suara-suara setan dan Iblis.

Kalau suara Allah, para rasul dan nabi, atau auliya–anggaplah kita kurang cukup bersih untuk bersentuhan dengan frekuensi itu. Mendengar suara setan saja alhamdulillah rasanya. Suara setan beberapa waktu yang lalu yang saya dengar adalah ketika ada pentas monolog teater yang berjudul ”Mencari Tuhan”. Setan itu dengan beberapa rekannya tertawa terkekeh-kekeh terguncang- guncang bahkan sampai badannya terguling-guling. Salah satu setan bilang: ”Kasihaaan deh lu Tuhan…..ratusan abad Kau ciptakan mereka,memasuki abad ke 21 sejak lahirnya Isa Nabi-Mu, dan entah berapa ratus abad yang lalu kau angkat manusia sebagai khalifah-Mu, mandataris- Mu di bumi sejak Adam yang ilmu ekogenetika manusia sudah membuktikannya bahwa ia manusia pertama: tiba-tiba hari ini mereka memberi pernyataan bahwa mereka sedang mencari-Mu….. Lha selama ini Tuhan ke mana kok sampai dicari-cari oleh mandatarisnya sendiri?

Lha para mandataris yang hebat-hebat itu selama ini ngeloyor ke mana saja kok baru sekarang mencari Tuhan? Lho setelah 100 abad menjadi mandataris kok baru mencari siapa dan di mana Sang Pemberi Mandatnya?.....” Komunitas setan belang bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh terguncang- guncang sampai basah seluruh badannya oleh lelehan air mata. Menjelang hari pertama Ramadan ini saya mendengar rombongan setan itu sengaja lewat-lewat di sekitar saya dan ngomong aneh-aneh seperti itu. ”Puasa kok suasananya lebih ribut dibanding tidak puasa.Puasa cap apa itu.Wong namanya saja puasa kok ribut. Anggaran belanja makanan minuman keluarga-keluarga kaum pelaku puasa malah lebih meningkat dibanding hari-hari tak puasa.

Puasa kok meningkat cengengesannya, ribut jualan kue puasa, jajan puasa, kado puasa, lawakan puasa, ustadz puasa, album puasa, mebel puasa, soto rawon puasa, kolak getuk puasa….” Dan ketika gempa mengguncang Bengkulu, Jambi, Padang, punggung bawah Pulau Sumatera– kejadian yang dulu diramalkan sudah seharusnya terjadi sekitar setahun lalu–Setan itu langsung nyerocos lagi: ”Gempa datang untuk mencoba melawan ributnya suara Ramadan, komoditas Ramadan, industri Ramadan, eksistensi dan vokalisme taushiyah Ramadhan…. Tapi berani taruhan bahwa gempa yang diizinkan Tuhan untuk terjadi di malam pertama memasuki Ramadan itu tak akan mampu mengalahkan riuh rendahnya budaya industri Ramadan!” Setan lain bereaksi:

Bukankah itu mencerminkan suksesnya misi-visi kita kaum setan atas kehidupan manusia?” Setan yang pertama menjawab: ”Untuk melakukan keributan-keributan perusak kekhusyukan Ramadan, bulan privatnya Allah itu, umat manusia tidak memerlukan pengaruh atau provokasi kita para setan. Mohon kita akui dengan kebesaran jiwa bahwa kecerdasan manusia untuk mengotori hidupnya sendiri sudah jauh melebihi target maksimal nenek moyang kita para setan dahulu kala untuk merusak hidup manusia.” Setan yang ketiga menimpali: ”Manusia itu tolol.

Untuk tidak mencuri dan mabuk mereka butuh kitab suci Allah, tak bisa mereka temukan sendiri dengan nurani dan akal sehatnya.Untuk tidak korupsi dan menindas rakyat mereka butuh konstitusi dan hukum formal. Itu pun belum tentu mereka patuhi. Jadi untuk menghancurkan peradaban manusia, sama sekali tidak diperlukan setan dan Iblis. Mereka sudah matang dan dewasa dan canggih menjalankan sistem dan budaya penghancur kehidupan anak cucu mereka sendiri.

Meski Tuhan mengizinkan ada tsunami terjadi dan sepadan dengan tsunami di zaman Nabi Nuh dan Firaun, meskipun gunung-gunung diledakkan, meskipun gempa disebar, meskipun tanah bumi diretak-retakkan: manusia sudah telanjur tidak memiliki alat di dalam diri dan sistem kebersamaannya untuk belajar dari bencana bencana itu. Setiap bencana hanya melahirkan tiga bersaudara: politisasi bencana, komodifikasi bencana, dan wisata bencana…… Mereka sesungguhnya tidak mengerti Ramadan….” Saya termangu-mangu dan menjadi ragu sendiri: itu semua kata-kata setan atau malaikat atau isyarat dari Tuhan sendiri? (*)

EMHA AINUN NADJIB* *) Budayawan

Baca Selengkapnya......

Harga Diri Ayam


Seputar Indonesia, Jum'at, 07/09/2007

AYAM memang hewan atau binatang,tetapi tak sekadar hewan atau binatang,ia adalah juga ayam. Ia bahkan punya banyak identitas dan

kemungkinan eksistensi yang lain.

Ayam juga makhluk dunia,warga dunia,bagian dari alam,peliharaan Pak Kardjo, temannya ayam lain, putra atau putrinya bapak ayam ibu ayam,penghuni kandang ayam pojok RT.Ayam adalah juga hewan,bukan bebek,bukan angsa,bukan burung bukan anjing,bahkan bukan manusia. Identitas mana yang primer mana yang sekunder, itu soal cara pandang.

Mana kedirian yang ”sekadar”,mana yang ”bahkan”,mana yang ”utamanya”, itu soal konsep nilai dan bisa berbeda- beda. Sebuah cara pandang bisa meletakkan ayam sebagai ”sekadar ayam”.Namun cara pandang lain menyebut ”mending ayam”, maksudnya: umpamanya ”dibandingkan manusia”. Lho kok dibandingkan manusia? Cara pandang itu menemukan bahwa ayam sangat mungkin lebih berguna bagi kehidupan seluruh makhluk alam semesta ini,sekurang-kurangnya bagi umat manusia,dibandingkan manusia sendiri.

Umpamanya masih lebih baik ayam yang tidak mungkin mencuri manusia dibandingkan ”manusia pencuri ayam”.Bahkan ada cara pandang nilai yang meletakkan ayam di wilayah kemuliaan: segala perilaku ayam, langkahnya, makan minumnya,mati hidupnya, 100% menaati sunnahTuhan atau tradisi penciptaan yang di-set up Tuhan. Ayam sepenuhnya patuh kepada Tuhan, sementara manusia dikasih peluang demokrasi: berpikir sendiri, menentukan sendiri keputusan- keputusan hidupnya.

Maka manusia bergerak ke berbagai kemungkinan arah: ada yang menjadi lebih baik dari ayam, ada yang lebih hina dari ayam.Ayam disembelih saja berguna dan hasil masakannya enak dimakan manusia. Sementara manusia tak enak dimakan dan tidak punya posisi nilai untuk baik disembelih. Ketika ayam disembelih, digoreng atau digodok: itulah puncak kemuliaan kemakhlukannya.

Pendalaman ilmu dan nilai seperti ini bisa kita perluas sampai detail dan beribu-ribu halaman kita hasilkan. Substansi yang akan kita ambil adalah bahwa ayam adalah ayam: ia tidak bisa hanya disebut hewan. Si Abdul, Bambang, John, bukan ”hanya” manusia: ia juga orang Arab, Jawa atau Amerika. Ia juga orang Islam, orang Kristen, atau atheis.Pada mereka juga terdapat berbagai dimensi identitas: etnik, agama, budaya, golongan, jenis, spesies, gen, kelompok, kata Alquran: syu’ub wa qabail.Itulah pluralisme.

Kata Alquran lagi: bersuku-suku berbangsa-bangsa itu tak lain tak bukan untuk berkenalan, berempati satu sama lain, saling menghormati, menyayangi, bekerja sama, menjadi negara, kerajaan, PBB, parpol, ormas, perusahaan, warung, masjid dan gereja, gardu, SMS, cyber world, dan segala macam produk kerja sama kemanusiaan yang lain. Maka lima pilar yang menyangga berdirinya Republik Indonesia– rakyat, kaum intelektual,TNIPolri, kekuatan adat dan tradisi serta sumber-sumber keagamaan–harus diterjemahkan secara matang di dalam budaya dan konstitusi, harus dijadikan pijakan setiap inisiatif transformasi sejarah yang menentukan arah pembangunan di bidang apa pun.

Selama 62 tahun merdeka yang pegang kendali hanya dua: kaum intelektual dan tentara-polisi. Rakyat hanya tunggangan, agama, dan adat tradisi hanya dieksploitasi dan dikomoditaskan. Salah satu akibatnya, etnisitas menjadi sama dengan kekerdilan, identitas keagamaan menjadi eksklusivisme. Begitu kita berpikir tentang pluralisme, maunya ayam kita tak anggap ayam, melainkan kita sebut hewan saja.Ayam tak boleh menonjolkan keayamannya.

Bahkan ayam harus disembunyikan penampakan ayamnya. Ayam harus agak kebebek-bebekan, bebek harus keangsa-angsaan, kerbau harus jangan terlalu jelas kerbaunya,lembu kalau bisa mirip kerbau, anjing seyogianya mirip manusia dan manusia bagus kalau seperti anjing. Orang tidak biasa menjadi dirinya sendiri dan tak terbiasa melihat orang lain sebagai diri orang lain.Orang hanya siap melihat dirinya dalam keseragaman dengan kebanyakan orang.Orang sakit hati kalau menemukan orang lain tidak seperti dirinya.

Orang tidak tahan hati untuk berbeda. Kalau saya suka bergurau dengan kambing, para tetangga menyimpulkan saya adalah kambing. Kalau saya hadir ke acara partai komunis internasional, orang menyimpulkan saya sudah murtad dan keluar dari Islam. Padahal saya senang bergaul dengan setan, saya tidak pernah memusuhi setan, karena antara setan dengan saya sudah ada pemahaman dua pihak bahwa saya tidak mungkin mampu memengaruhi setan, sementara saya juga insya Allah tidak akan pernah membiarkan diri saya dipengaruhi oleh setan.

Maka setan lebih merupakan partner dialektika, sebagai kegelapan diperlukan untuk mempertegas cahaya,hitam diperlukan untuk menghayati putih dan warna- warna lain. Pada suatu waktu bersama kelompok Kiai Kanjeng kami tiba di Roma sesudah Aberdeen, London, dan Berlin. Begitu mendarat, layar televisi mengumumkan bahwa Paus Johannes Paulus II gerah alias sakit. Beberapa hari kemudian wafat. Kami pun ikhlas tidak jadi pentas. Karena kalau beliau wafat, pertandingan sepak bola di Roma atau mungkin seluruh Italia harus ditunda.

Semua tempat hiburan tutup. Yang buka cuma restoran dan warung. Tatkala Paus masih sakit, kami sempat berpentas di Teatro Dalmazia. Kemudian ketika kami menyiapkan pementasan di Teramo dan Napoli, ternyata Wali Kota Roma senang atas rencana pementasan Kiai Kanjeng di Roma sehingga memberi izin. Maka kami kembali menyiapkan diri dan membangun empati. Kami menyusun sejumlah aransemen baru untuk obituari Paus; saya menulis puisi:

Poesia per un GrandeL’uomo buono non puo’ morire Perche’ la bonta’ e’ piu’ forte della morte L’ uomo dal cuore sublime E’ il sole che irradia la terra Se lui muore Il sole si sposta Dal cielo Nell’anima di ogni essere umano L’uomo dall’animo puro Deve essere pronto a perdere se stesso Perche’ ognuno sente il diritto di possederlo E perche’ per amare tutti gli uomini Dovrebbe vivere mille anni Se l’uomo dall’animo puro Fa il suo dovere Di lasciare la terra In realta’ la terra non lo vuole lasciar andar via Milioni di persone lo piangono Mare e monti desiderano andare con lui Anzi la vita vorrebe fermarsi Piuttosto che continuare il suo cammino Senza essere accompagnata dall’uomo dall’animo sublime Roma,5 Aprile 2005

TENTU saja jangan menyangka saya bisa berbahasa Italia, apalagi menulis puisi berbahasa Italia. Sedangkan menulis puisi bahasa Indonesia saja dibolak-balik tetap tak kan sampai pada tingkat kemampuan Sutardji Calzoum Bachri,penyair asal Riau yang lahir dari rahim ibunya bahasa Indonesia.

Untunglah kekurangan berbahasa bisa bermanfaat untuk memperdekat hubungan kemanusiaan. Pluralisme tidak hanya berbekal kemampuan. Ketidakmampuan pun menjadi bekal yang baik, asal digoreng dari ketulusan hati.Ketika saya keliling Filipina pada 1980 bersama teman Ambon yang bahasa Inggrisnya hanya dua biji Yes dan No.Saya kalah dari dia soal memperoleh banyaknya teman. Dengan menggunakan bahasa badan, sorot mata, ekspresi wajah, teman saya itu menerobos siapa saja dan akhirnya menjadi sahabatnya.

Sementara saya sibuk minder karena bahasa Inggris saya juga hanya unggul beberapa biji dibanding dia. Kalau di luar negeri di mana kita berkomunikasi dengan bahasa Inggris, saya selalu mengawali pidato saya dengan, € ¦’´Memohon maaf atas kacaunya bahasa Inggris saya karena dulu studi saya lebih fokus ke bahasa Arab. Sementara kalau ke negara-negara Timur Tengah tinggal saya balik: fokus studi saya pada bahasa Inggris.

Hadirin selalu tertawa. Semakin saya berusaha memperbaiki bahasa saya sehingga semakin tampak begonya,mereka semakin sayang sama saya. Puisi untuk Paus itu bahasa Indonesianya dibaca oleh istri saya,bahasa Italianya dibaca oleh teman Italia, musiknya oleh KiaiKanjeng dibikin sangat gerejawi (sesungguhnya tidak ada musik, nada, irama yang beragama apa pun).

Ditambah beberapa nomor lain yang memang kami aransemen khusus untuk publik Italia, penonton Indonesia hanya 5 sampai 7 orang, yang duduk di depan hanya 1 orang: cukuplah untuk membuat banyak orang menangis. Mungkin dalam bayangan mereka orang Islam itu hobinya makan orang, menggoreng jari-jari, kuping, dan buah pelir. Mungkin mereka selama ini berpendapat bahwa bagi orang Islam semua penghuni dunia yang tidak beragama Islam wajib dibunuh, disembelih, ditembak atau dibom. Mungkin secara antropologis mereka punya hipotesis bahwa kaum muslimin kayaknya bukan berasal dari homo erectus atau homo sapien, mungkin homo bombus.

Ternyata orang Islam kenal cinta juga. Seusai pentas,selalu,tiga kali standing ovation, soundman KiaiKanjeng dijunjung duduk di atas pundak soundman setempat yang semula cemberut melulu sebelum pementasan. Rizki KiaiKanjeng terbesar di muka bumi ini adalah selalu diremehkan ke manapun mereka pergi, kemudian disayang dengan kadar yang plus karena menyesal meremehkan sebelumnya. Kecuali di Indonesia: KiaiKanjeng tidak diremehkan, juga tidak dijunjung karena tidak ada.

Yang jelas, setelah pementasan di Vatikan itu, juga setelah sekian puluh kali di berbagai negara, Kiai- Kanjeng pentas dengan audiens lintas agama atau lain agama sama sekali, tidak seorang pun dari anggota KiaiKanjeng yang berganti agama,malah semakin pintar menggali dan mengembangkan rasa syukur.

Kiai Kanjeng juga tidak pernah berpikir bahwa orang non-Islam akan menjadi muslim sesudah nonton KiaiKanjeng karena kata Allah, ’´Sesungguhnya engkau tak bisa memberi petunjuk kepada siapa pun saja yang kau cintai,melainkan Allah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia maui.’´ Tahun 2008 KiaiKanjeng diundang ke Belanda berdasarkan pertimbangan sesudah adanya kasus Theo van Gogh.

Barusan di sebuah kampung Katolik di Sleman Utara Yogyakarta KiaiKanjeng juga diminta kasih pengajian, padahal penduduk Islamnya hanya penghuni tiga rumah. Di Pasuruan, Pesantren Darut Taqwa yang punya Universitas Yudharta, baru saja minggu kemarin membuka panggung untuk Kiai- Kanjeng memandu silaturahmi antara para pastor, kiai-kiai, tokohtokoh Budha dan Hindu, dengan audiens yang juga campuran. Acara-acara semacam itu bukan untuk mencampuradukkan antara agama Islam dengan agama lain.

Justru dipakai untuk menarik bersama garis-garis offside,´handsball, cornerball dst di antara koridor-koridor teologi yang tegas perbedaannya, namun membuka pintu-pintu butulan kultural,kerja sama ilmu, kongsi ekonomi, dan komitmen politik menjunjung keadilan plural. Saya pribadi melakukan kontrak seumur hidup dunia akhirat tidak akan memasukkan kata permusuhan di dalam harddisk kalbu saya. Kalau dimusuhi saya oke, bahkan berterima kasih, sebab itu menguji cinta saya dan menambah kualitas cinta saya jika mampu saya pertahankan di hadapan kebencian dan permusuhan orang lain kepada saya.

Bagi saya,permusuhan tidak ada hubungannya dengan kehidupan, permusuhan hanya punya jodoh kematian.Permusuhan tidak punya ekspresi apa pun kecuali membunuh atau memusnahkan. Tak ada permusuhan dengan perang kata, debat pendapat, persaingan dagang, atau politik. Semua yang ada dalam kehidupan adalah cinta.Jika dipaksa melakukan permusuhan, langkah cuma satu: mati.

Maka saya tak pernah tega melihat orang didorong ke kematian di luar kehendak Tuhan. Misalnya disakiti,dianiaya,ditindas.Seorang sopir ditendang petugas di Bandara Juanda dengan sangat kasar, saya langsung meloncat ke petugas itu, saya banting, saya kunci dan baru saya lepaskan sesudah dia minta maaf kepada orang yang ditendangnya. Sedangkan ayam punya harga diri, apalagi sopir. Suatu siang saya tiba di Tinambung, 350 km Makassar ke utara, keributan terjadi.

Pasukan Mandar sekitar 200 orang rakyat, beramai- ramai membawa senjata tajam naik motor, truk, Kijang, dll, menuju Kota Majene. Mereka akan menyerbu kelompok masyarakat di sana yang katanya menghina Balanipa. Balanipa adalah Kerajaan Mandar, 7 di pantai 7 di pegunungan, pusatnya di Tinambung. Balanipa adalah kata yang padanya terletak kehormatan dan harga diri suku Mandar.Ada orangorang di Pasar Majene bilang bahwa Balanipa sudah tinggal khayalan dan omong kosong.

Orang-orang Tinambung naik pitam,ramai-ramai menyerbu Majene. Saya ajak seseorang sekenanya naik motor, ngebut sengebut-ngebutnya, kami kejar mereka, kami balap, dan sekitar 200 meter di depan rombongan motor saya hentikan dan saya parkir melintang di tengah jalan. Saya turun dan mencegat menghentikan mereka.Kembali semua! Saya tunggu di masjid jami bersama Maradia !.

Maradia adalah sebutan untuk Raja Mandar. Mereka berbalik arah, saya menguntit di belakang mereka. Memasuki Tinambung mereka ke masjid, saya ke rumah Maradia, lapor ini itu kemudian kami sama-sama ke Masjid. Suasana sangat tegang, sunyi, namun semua menundukkan muka. Saya membaca Surah An-Nur ayat 35, surat cahaya.Saya katakan kepada mereka musuh kita bukan manusia.

Musuh kita adalah sistem yang sedang dibangun oleh sebagian manusia yang akan menghancurkan manusia. Sebentar lagi Jembatan Sungai Mandar di utara itu akan dibangun,kelak truk-truk akan masuk dan keluar wilayah Anda.Pikirkan truk itu akan membawa rezeki bagi masyarakat Tinambung ataukah akan merampok kekayaan Anda. Kalau Anda mulai berpikir untuk menjawab itu, maka itulah harga diri Mandar yang kembali dibangkitkan
EMHA AINUN NADJIB* *)

Budayawan

Baca Selengkapnya......

Kiai Kanjeng-Letto, Wawuh Iki Gak Wawuh Iko


Surya, Minggu, 26 Agustus 2007

Senin (27/8) malam, ada acara spiritual Syukur dan Terus Berjuang, dihadiri oleh Letto dan Kiai Kanjeng. Seluruh warga korban lumpur diundang dan berhak mengungkapkan aspirasi dan tuntutannya, baik yang dalam proses memperoleh bayaran 20 persen dengan yang 80 persen paling lambat Mei 2008 berdasarkan Peraturan Presiden, maupun pengungsi pasar yang menuntut pembayaran 50:50, atau penuntut-penuntut lain.

Selama ini, pengetahuan publik tentang kasus lumpur tidak seimbang dan sama sekali tidak lengkap. Pembayaran DP 20 persen sudah mencapai 69 persen dari seluruh hasil verifikasi. Minarak Lapindo wajib dan sudah bersumpah menuntaskan itu paling lambat 14 September. Bagi sebagian korban yang tanah dan bangunannya tidak bersurat hukum, cukup mengisi formulir dan bersumpah bahwa ia jujur dengan pengakuannya tentang luas tanah dan bangunan.

Sebelum warga yang tak berlegalitas hukum itu bersumpah di Pendapa Pemkab Sidoardjo 25 Juli 2007, tanpa memberitahukan siapapun sebelumnya, saya datangi Direktur Operasional PT Minarak Lapindo, kemudian saya bawa ke depan warga dan saya minta bersumpah bahwa mereka akan benar-benar membayar.

Bambang Setyo Widodo, sang Diriektur Operasional menyatakan: Kami akan membayar sesuai dengan klaim warga. Saya minta dia mengulang dua kali. Kemudian saya konfirmasikan kepada warga dan semua pihak yang hadir, yang kemudian menyatakan bahwa kalimat itu adalah kalimat sumpah. Mereka kemudian berteriak Allahu Akbar! Bersorak sambil meneteskan airmata.

Kemarin Kamis (23/8) malam, saya diminta oleh teman-teman pengungsi di Pasar Baru Porong yang menuntut pembayaran 50 persen:50 persen, untuk berkunjung ke kamp pengungsian mereka. Mereka menyatakan sudah tidak bisa menemukan langkah untuk mewujudkan tuntutan mereka.

Selama ini, mereka didampingi oleh banyak sekali tokoh Jakarta, termasuk Bambang Sulistomo putra pahlawan Bung Tomo, Barnas, Pak Tjuk Sukiadi, Walhi dan lain-lain. Bahkan Kamis yang lalu mereka mendatangkan Gus Dur, Mbah Lim, tokoh-tokoh lintas Agama, termasuk mengungkapkan lembar Bahtsul Masail kiai-kiai, pastur, pendeta dan lain-lain tentang kasus Lapindo.

Sangat mengherankan, mereka menyatakan tak bisa melangkah ke mana-mana lagi, kemudian menyerahkan kepada saya untuk mencarikan jalan. Seorang aktivis LSM, Winarko, menyatakan sudah tidak ada lagi siapa-siapa yang bisa dipercaya, sehingga mereka meminta saya datang ke Pasar Baru Porong.

Dengan pemandatan itu, praktis sekarang yang memandati saya sudah 100 persen, minus satu dua orang yang tak bisa diajak berembug dan tidak berani menampakkan diri sehingga hanya bersuara dari belakang atau kejauhan.

Dalam pertemuan di Pasar Baru Porong itu, saya mengemukakan sejumlah prinsip yang saya lakukan. Pertama, saya bukan korban lumpur, bukan Pemerintah, bukan orang Lapindo, bukan LSM dan bukan siapa-siapa, sehingga hanya berhak melakukan sejauh dan sesuai yang dimandatkan secara legal formal tertulis berkekuatan hukum oleh korban kepada saya.

Saya berhak meninggalkan masalah lumpur kapan saja dan menikmati anak istri saya di Jogja, karena keluarga lebih wajib di hadapan Allah. Saya mau disentuh lumpur, tidak bisa tidak, karena kasih sayang sosial sebagai sesama manusia dan bangsa Indonesia.

Kedua, bukan wilayah saya apakah korban memilih pembayaran 100 persen atau 50 persen-50 persen atau 100 persen. Ibarat pemuda yang mau saya nikahkan, saya tidak mempersoalkan apakah dia milih santriwati, artis atau penghuni Dolly. Monggo milih mana secara independen, saya hanya mencoba mencarikan jalan. Tentu saja, ada yang mudah ada yang sukar, dan masing-masing pemilih menanggung risiko pilihannya masing-masing.

Ketiga, kalau saya salah selama bersentuhan dengan urusan lumpur, di forum itu juga saya minta diungkapkan kepada saya. Kalau saya benar-benar salah, saya wajib minta maaf. Kalau penuduh saya yang bersalah, saya tidak menuntut dia minta maaf kepada saya, sebab urusan dia bukan dengan saya, melainkan dengan keadilan Allah.

Keempat, warga korban tidak punya uang untuk menyuap saya. Lapindo tidak efektif untuk menyuap saya karena justru saya yang memastikan Nirwan Bakri bersumpah membayar hak warga. Kalau Lapindo menyuap saya, hasilnya harus meringankan Lapindo, misalnya tidak membayar warga.

Pemerintah bukan hanya tidak menyuap, bahkan saya bersama Bangbang Wetan (BBW) dan Jamaah Maiyah mentraktir pemerintah. Sekian kali rapat kami selenggarakan dengan biaya kami. Pasukan BBW dan Maiyah tiap hari bergiliran ke lapangan dengan biaya operasional pribadi mereka sendiri.

Bahkan biaya transportasi dan akomodasi Tim 16 ke Cikeas semua ditanggung oleh BBW, Maiyah Kenduri Cinta dan Novia Kolopaking. Yang strategis untuk menyuap saya adalah Gabungan Pengusaha Korban Lumpur Lapindo (GPKLL) yang juga memberi mandat legal formal kepada saya, dan silakan menanyakan kepada mereka berapa suapan mereka ke saya.

Untuk teman-teman Pasar Baru Porong, saya akan mohon kepada Allah agar memberi hidayah kepada saya maupun mereka, mudah-mudahan ada jalan yang bisa ditempuh. Sudah ada yang hadir ke pikiran saya, namun dilarang diomongkan sebelum dilaksanakan.

Acara Syukur dan Terus Berjuang di GOR Delta Sidoardjo, Senin (27/8) malam, semoga diridhoi Allah menjadi momentum solusi yang lebih luas dan mendasar. Pencapaian yang paling minimal adalah kerukunan antarwarga korban, yang meski pilihannya berbeda-beda serta jalan tempuhannya tidak sama, namun mereka tetap memelihara silaturahmi kemanusiaan, bersaudara sebagai sesama bangsa Indonesia, menghormati hak independensi masing-masing untuk menentukan sikap. Perjuangan masih panjang, dan warga korban bertengkar sendiri, maka yang beruntung adalah mereka yang beriktikad tidak baik terhadap kasus lumpur.

Tidak mudah mempersatukan pihak-pihak yang berbeda pilihan. Setelah malam keputusan di Pasar Baru Porong seperti itu, ternyata kemudian terjadi kontroversi. Sejumlah pengungsi tidak senang, bahwa korban penerima kontrak datang mengantarkan saya ke pasar. Mereka menolak apa yang sudah kami sepakati untuk melangkah bagi kepentingan pengungsi pasar.

Tentu saja tidak ada yang memberatkan saya, bahkan kalau itu disebut pembatalan, itu benar-benar justru meringankan saya. Begitulah Republik Indonesia. Yang milih pecel, mangkel pada yang milih rawon, terus gak diwawuh (disapa). Tambah angel dalane (susah jalan keluarnya).

Teman-teman Bangbang Wetan dan Jamaah Maiyah yang secara sukarela mengawal semua proses di lapangan dan ikut memelihara nuansa silaturahmi antarsemua pihak yang potensial untuk saling bertentangan, bersama saya bersumpah bahwa tidak ada cacat akhlak, cacat moral, cacat prinsip, dalam melaksanakan semua ini. Kalau ada, kami menanggung risiko untuk dihajar Allah, pethor sikile, pethot cangkeme, angel uripe, kisruh rumahtanggane dan seterusnya.

Bagi yang memfitnah Bangbang Wetan, Jamaah Maiyah dan saya, juga menanggung risiko yang sama dari Allah, atas kemurnian hati Rasulullah Muhammad SAW, para Walisongo, para Auliya di Jawa Timur, juga Mbah Ud Kedungcangkring, Abah Dul Pasar, Yai Hamid, bahkan hadir juga di seputaran lumpur Imam Lapeo Mandar.

Bagi Letto dan Kiai Kanjeng, mereka tak ada kaitannya dengan urusan warga dengan Lapindo dan Pemerintah. Mereka hadir sebagai manusia yang berbekal cinta.

EMHA AINUN NADJIB* *) BudayawanEmha Ainun Najib

Baca Selengkapnya......

Jejak Tinju Pak Kiai


Seputar Indonesia, Jum'at, 24/08/2007

ANDAIPUN di seluruh Indonesia tak ada lagi koruptor di segala level dan lini, tak ada kejahatan, keserakahan, maksiat atau segala macam nilai kacau lainnya, tidak serta-merta bangsa kita akan menjadi selamat atau apalagi pasti mengalami kemajuan.

Baik buruk, jahat tak jahat bukan satu-satunya faktor penentu nasib manusia. Dimensi dasar nilai hidup manusia adalah baik dan buruk,benar dan salah, indah dan tidak indah. Sebenarnya belum cukup. Masih ada dimensi mendasar lainnya, belum lagi variabel-variabel dan detailnya. Ada ratusan terminologi. Ada orang mengucapkan sesuatu dan melakukannya.

Ada orang mengucapkan, tapi tak melakukan.Ada yang melakukan, tapi tak mengucapkan. Ada yang tak mengucapkan dan tak melakukan, dengan berbagai variabelnya. Ada orang yang tahu sedikit tentang sedikit hal.Ada orang tahu banyak tentang sedikit hal. Ada orang tahu sedikit tentang banyak hal. Ada yang tahu banyak tentang banyak hal … dengan berbagai variabelnya.

Ada orang mengkritik dan memberi jalan keluar. Ada orang mengkritik, tapi tak bisa memberi jalan keluar. Ada orang memberi jalan keluar tanpa mengkritik.Ada orang tidak mengkritik dan tidak memberi jalan keluar, dengan berbagai variabelnya. Ada orang berjuang, berteriak-teriak, dan melaksanakan perjuangannya. Ada orang berjuang, tidak berteriak tapi mewujudkan perjuangannya.

Ada orang berjuang dan tidak sibuk mengumumkan di koran bahwa ia berjuang, karena teriakan mengganggu strategi perjuangannya. Ada orang berteriakteriak tapi tidak berjuang. Ada orang yang tidak berteriak-teriak dan tidak berjuang, dengan segala variabelnya. Ada orang yang mengerti dan mengerti bahwa dia mengerti.Ada orang mengerti, tapi tidak mengerti bahwa dia mengerti. Ada orang yang tidak mengerti, tapi mengerti bahwa dia tidak mengerti.

Ada orang yang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa dia tidak mengerti, dengan segala variabelnya. Ada orang berdagang dan memusatkan diri pada pelayanan terhadap pelanggannya. Ada orang berdagang sibuk pada apa mau dia terhadap pelanggan sehingga lupa apa maunya pelanggan.Ada pedagang yang tidak peduli-peduli amat pada kemauan pelanggan dan tidak konsentrasi pada apa mau dia sendiri dalam berdagang, dengan segala variabelnya.

Ada orang perang dengan berbekal semangat dan keyakinan untuk menang, dengan menghitung cuaca, medan, dan musuh. Ada orang perang sangat teliti menyelidiki kekuatan cuaca, medan, dan musuh sehingga tidak sempat menghitung kekuatan dan kelemahan sendiri. Ada orang perang sibuk membanggakan kehebatannya sehingga merasa tidak perlu memperhitungkan lawan.

Ada orang perang yang atas musuh tak berhitung dan atas dirinya sendiri juga tak berhitung, dengan segala variabelnya. Ada orang yang sangat khusyuk dengan prinsip dan idealismenya dan sangat sungguh-sungguh memikirkan strategi terapan prinsipnya. Ada orang yang total pegang prinsip sampai tak punya energi dan waktu untuk memikirkan bagaimana menerapkannya.

Ada orang yang habis usianya untuk tata kelola dan tata terapan sampai tidak ada prinsip yang tersisa di dalam dirinya. Ada orang yang tak peduli pada prinsip dan tak sungguh- sungguh melaksanakan apa pun, dengan segala variabelnya. Ada seorang kiai nonton tinju bersama santri-santrinya pada suatu Minggu pagi bulan Maret tahun 1974. George Foreman melawan Muhammad Ali di Kinshaha.

Pak kiai bersemangat dan bersoraksorai terus-menerus sampai terdengar ke seluruh asrama santri di pesantrennya.Sebaliknya,para santri hampir tidak ada suaranya dan tampak bingung air muka mereka. Setiap kali Muhammad Ali ditonjok, Pak Kiai bersorak. Para santri tidak berani meng-counter meskipun hati mereka ikut sakit melebihi sakitnya Muhammad Ali ditonjokin Foreman. Ali 32 tahun menantang juara dunia Foreman 24 tahun.

Mulai ronde 3 Ali sudah lari ke pojok ring terus dan memang tak diberi peluang oleh Foreman untuk sedetik saja tak terpojok. Ali minta tolong sama tali ring untuk bergelayutan dengan punggungnya menghindari pukulanpukulan Foreman. Para santri rasanya tidak ridho dunia akhirat melihat dan mendengar Pak Kiai bersorak-sorak terus setiap kali Ali diberondong pukulan. Sampai akhirnya tiba menit kedua ronde kedelapan, Ali balas memukul, akumulasi jab, straight, dan hook. Foreman munting, terputar badannya dan tergeletak TKO.

Badannya belum habis benar, tapi mental dan hatinya KO lebih dulu karena tak menyangka Ali yang tua mampu menjatuhkannya. Para santri tak bisa menahan diri lagi. Begitu Foreman ngglimpang, mereka berteriak-teriak sangat keras.Sebaliknya Pak Kiai langsung pingsan,karena dua perkara.Pertama karena Foreman tumbang, kedua karena pekik kegembiraan para santri.Sejumlah santri panik dan menjunjung tubuh Pak Kiai, mencoba menyadarkannya. Salah seorang santri nyeletuk, ”Kenapa sihPak Kiai mbelainForeman?” Santri lain menjawab,”Lho, tidak. Pak Kiai sangat fanatik dan cinta sama Ali. Cuma dia sangka yang Foreman itulah Ali….” Kisah ini diperuntukkan bagi siapa saja, aktivis, intelektual, pahlawan,pejuang,DPR,pemerintah, LSM, ulama dan siapa saja: mohon dengan sangat jangan ikuti jejak Pak Kiai itu. *)

EMHA AINUN NADJIB* *) Budayawan


Baca Selengkapnya......

Indonesia Jangan Sampai Besar


Seputar Indonesia, Jum'at, 17/08/2007

INDONESIA adalah bangsa besar.Tanda kebesarannya antara lain lapang jiwanya, sangat suka mengalah, tidak lapar kemenangan dan keunggulan atas bangsa lain, serta tidak tega melihat masyarakat lain kalah tingkat kegembiraannya dibanding dirinya.

Dari lingkaran katulistiwa, Indonesia memiliki 12,5%,dan itu lebih dari cukup untuk menguasai akses angkasa, satelit dan wilayah otoritas politik maupun perekonomian informasi dan komunikasi. Kita adalah a big boss industri teknologi informasi sedunia.Tapi kita sangat rendah hati dan mengalah. Kita tidak tega kepada "negara kecamatan" bernama Singapura,sehingga kekayaan kita itu kita sedekahkan kepada tetangga kecil itu.

Keluasan teritorial dan kesuburan bumi maupun lautan,kekayaan perut bumi,tambang-tambang karun, keunggulan bakat manusia-manusia Indonesia, pelajar-pelajar kelas Olimpiade, kenekatan hidup tanpa manajemen, ideologi bonek, jumlah penduduk,kegilaan genetik dan antropologisnya, dan berbagai macam kekayaan lain yang dimiliki oleh "penggalan sorga"bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia–sungguh-sungguh merupakan potensi yang tak tertandingi oleh negara dan bangsa mana pun di muka bumi. Tetapi, sekali lagi, kita adalah bangsa yang lembut hati dan jauh dari watak "raja tega".Kekayaan-kekayaan itu kita persilakan dikenduri oleh industri multinasional dan orang-orang serakah: emas rojo brono diangkuti tiap hari ke mancanegara.Dan itu bukan kekalahan, itu adalah kebesaran jiwa.

Kita bangsa yang kaya raya karena amat sangat disayang Tuhan sehingga kita pesta sedekah dan infak. Rakyat kebanyakan ikhlas menderita karena memilih surga dan toleran kepada sejumlah minoritas yang memang memilih neraka. Itu terkadang rakyat ikut rakus sedikit-sedikit,dengan pertimbangan tak enak atau pekewuh kalau kita dari dunia langsung masuk surga tanpa menengok saudara-saudara kita yang di neraka.Tak baiklah itu.Apa salahnya kita mampir juga beberapa saat di neraka, ngerumpi dengan handai tolan di sana. Pada suatu hari, TVRI, RRI, TNI,Polri, dan berbagai mesin rumah tangga negara kita sewakan atau jual kepada tetangga.

Berikutnya kita bercita-cita tak usah repot-repot menghabiskan ratusan miliar untuk pemilihan presiden. Kita bisa mengontrak tokoh manajemen dunia untuk memimpin negeri kita. Juga menteri-menteri kita kontrak dari luar negeri, sebagaimana para pemain sepak bola. Dan puncaknya kelak, MPR bisa mengambil keputusan untuk bikin proposal memohon kepada Kerajaan Belanda agar berkenan memimpin kita lagi. Bangsa kita adalah bangsa filosof. Kalau presiden kita kontrakkan dari Belanda atau terserah negeri maju manapun kita persilakan memimpin, itu tidak berarti kita berada di bawah mereka. Dalam teori demokrasi, rakyat selalu tertinggi, presiden dan kabinet hanya orang yang kita upah dan harus taat kepada kita.

Jadi,sesungguhnya bangsa Indonesia tetap di atas. Sebagaimana seorang Imam salat diangkat oleh makmumnya, imam pada hakikatnya harus taat kepada makmum. Yang memilih ditaati oleh yang dipilih, apalagi yang dipilih itu digaji. Makmum yang memilih imam, tidak ada imam memilih makmum. Sejak 200 tahun lalu, kekuatan bangsa Indonesia membuat dunia miris. Maka perlahan-perlahan, terdesain atau tak sengaja terdapat semacam perjanjian tak tertulis di kalangan kepemimpinan dunia di berbagai bidang: jangan sampai Indonesia menjadi bangsa yang besar, jangan sampai Indonesia menjadi negara yang maju.

Sebab potensi alam dan manusia tak bisa dilawan oleh siapa pun. Kalau diberi peluang, masyarakat setan dan iblis pun kalah unggul dibanding umat manusia Indonesia. Sedangkan orang Indonesia hidup iseng dan sambilan saja dalam melakukan apa pun: setan-setan sudah semakin terpinggirkan dan kehilangan pekerjaan. Kita pun sangat suportif kepada kehendak dunia untuk mengerdilkan bangsa kita. Kita membantu sepenuh hati upaya-upaya untuk mengerdilkan diri kita sendiri.Sehari-hari, dalam pergaulan maupun dalam urusan-urusan konstelatif stuktural, kita sangat rajin menghancurkan siapa pun yang menunjukkan perilaku menuju kemungkinan mencapai kebesaran dan kemajuan bangsa Indonesia

Setiap orang unggul tak kita akui keunggulannya. Setiap orang hebat kita cari buruknya. Setiap orang berbakat kita kipasi agar bekerja di luar negeri. Setiap orang baik tak akan pernah kita percaya. Setiap orang tulus kita siksa dengan kecurigaan. Setiap orang ikhlas kita bantai dengan fitnah.Setiap akan muncul pemimpin sejati,harus sesegera mungkin kita bikin ranjau untuk menjebak dan menghancurkannya. Kita benar-benar sudah hampir lulus menjadi bangsa yang besar. Dan puncak kebesaran kita adalah kesediaan kita untuk menjadi kerdil.

EMHA AINUN NADJIB* *) Budayawan

Baca Selengkapnya......